Apr 12
LOCAL FOOD

Haruskah Kita Beralih ke Transaksi Cashless?

Cashless, merupakan salah satu upaya yang kini lebih digencarkan oleh pemerintah. Transaksi cashless tersebut adalah transaksi yang cepat, aman, dan mudah. Memang benar, namun (mungkin) 'tidak' bagi mereka yang tidak memiliki akses transaksi cashless tersebut.

 

Cashless, merupakan salah satu upaya yang kini lebih digencarkan oleh pemerintah. Transaksi cashless tersebut adalah transaksi yang cepat, aman, dan mudah. Memang benar, namun (mungkin) 'tidak' bagi mereka yang tidak memiliki akses transaksi cashless tersebut.

Mungkin termasuk saya (dulu), memiliki anggapan bahwa cashless tersebut hanya mempersulit dan ribet. Saya sertai dengan contoh.

Kita di Jakarta itu sering dihadapkan dengan antrian panjang nan ‘tak berotak’ saat hendak masuk gerbang tol. Ada 2 jalur, jalur pertama yang sering kita lalui (metode pengambilan karcis), dan satunya adalah GTO (Gerbang Tol Otomatis). Kerap saya jengkel, “Kenapa harus ada gerbang GTO? Kenapa tidak dibuat 2 jalur 'manual' saja?” Bodohnya, saat itu tidak pernah terpikir solusi untuk membuat ataupun membeli kartu akses.

Dari penerapan GTO tersebut, pemerintah sebetulnya sudah mulai menanamkan dan membiasakan diri kita untuk tidak lagi bergantung pada uang kartal, karena apapun yang bersifat ketergantungan adalah hal yang tidak baik.

Begini, dengan cashless tersebut, dari sisi pemerintah, itu bisa menghemat anggaran, karena tidak perlu lagi mencetak uang kartal. Itu satu. Kedua, menghindari dari adanya praktek korupsi. Kenapa? Karena setiap transaksi cashless, itu nantinya akan tercatat detail, berapa total uang yang masuk dan yang keluar. Transparan. Dan ketiga, faktor keamanan. Dalam cashless, uang kartal beralih menjadi uang digital. Karenanya, angka pencopetan akan menurun, karena Pencopet pun tahu, uang yang tersebar di masyarakat akan berjumlah minim alias sedikit.

Di era kita saat ini, cashless payment sudah begitu berkembang. Dengan mulai bermunculan pemain-pemain startup yang merambah ke kancah tersebut, cashless tidak melulu soal kartu (debit, kredit, dll). Melainkan, berupa aplikasi e-wallet, yang dapat langsung diakses melalui smartphone yang biasa kita bawa dan gunakan sehari-hari. Umumnya, e-wallet memiliki fitur pembayaran, yang kemudian muncullah istilah mobile-payment. Dan lagi-lagi kita dimudahkan dalam hal bertransaksi.

E-wallet, saya bisa sebutkan diantaranya adalah Uangku, UnikQu, Simobi, Dompetku, MC Mobile Cash, Doku, T-Money juga PayTren. Keseluruhan, e-wallet tersebut memiliki fungsi memudahkan user-nya untuk pembelanjaan keperluan sehari-hari. Bukan sayur-sayuran, melainkan pengisian pulsa kartu provider hingga pembelian pulsa token listrik. Tambah lagi, pembayaran tersebut dipermudah lagi dengan adanya fitur “Pay by QR”, sebuah fitur pembayaran hanya dengan memindai QR Code.

Kita kembali ke pertanyaan awal.

Haruskah kita beralih ke transaksi cashless?

Menurut saya, iya, namun bukan suatu keharusan. Yang pasti, cashless adalah masa depan. Jadi, saya sarankan untuk mencoba dulu, siapa tahu candu.

Nyoman Rahina Putra

(Seorang mahasiswa Binus, yang sedang magang di Dimo Pay Indonesia. Bukan seorang Penulis, hanya sedang belajar untuk menulis)